SEPOTONG KUE CINTA

11/12/2018 by in category Cerpen, Guru with 0 and 3
Home > Karya > Karya Sastra > Cerpen > SEPOTONG KUE CINTA

SEPOTONG KUE CINTA

INA MARIANA (GURU SDN 243 CICABE)

 

Hari ini  aku pulang lebih cepat dari biasanya karena di sekolah ada acara rapat guru, semua siswa  diperbolehkan untuk  pulang. Hatiku senang. “Yess, teriakku. Aku berfikir  punya waktu lebih banyak bersama bunda. Aku bersemangat dan sedikit berlari, bergegas menuju gerbang sekolah,  tempat biasa bunda menjemputku. Aku sudah tidak sabar ingin cepat- cepat- ketemu bunda.

 

Aku ambil telpon dari dalam tasku. Berkali-kali Aku telpon Bunda namun nada yang sama aku terima “nomor telpon yang anda tuju sedang tidak aktif  atau diluar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi“. Sudah hampir satu jam aku mencoba dan entah sudah berapa kali aku telpon tapi jawaban sama aku terima sampai baterai di telpon genggamku pun akhirnya habis.

 

 

Dengan penuh harapan sesekali aku palingkan wajahku ke ujung jalan, arah biasa bunda datang menjemput namun bunda tak juga tiba. Sampai kakiku terasa pegal kemudian duduk diatas bangku disamping pos satpam. Tanpa ku sadari tiba-tiba air mataku berlinang, aku kesal, aku marah, karena semua teman temanku sudah pulang sedangkan aku hanya duduk melongo ditemani pak satpam yang terus asik dengan game mobile legends di hpnya dan seperti tidak memperdulikan aku.

 

“Bagaimana aku bisa pulang karena selama ini, bunda yang selalu mengatar dan menjemputku sekolah, gumamku.”

 

Aku mulai ngedumel dan kesal dalam hatiku bertanya-tanya kenapa bunda tidak bisa dihubungi. Sempat terlintas di pikiranku  tentang Bunda. Dalam hati aku berfikir bunda jahat, Bunda pasti sedang jalan-jalan, belanja dan tidak mau mengajak aku.

 

Setelah lama menunggu akhirnya kesabaranku habis, aku menyerah. aku memutuskan untuk pulang sendiri, sengaja tidak naik angkutan kota, karena takut uangku tidak cukup untuk membayar ongkosnya, jadi aku memilih untuk berjalan kaki saja.

 

Matahari sudah semakin tinggi dan cuaca siang itu sangat panas aku berjalan di atas trotoar menuju rumah. Lalu lintas disekitarku cukup padat. Asap kendaraan dan debu jalanan menjadi teman disetiap langkah ku. Rasa haus dan lapar tidak aku perdulikan aku hanya ingin pulang, tetapi rasanya tidak ada kata letih, bahkan sesekali aku bersenandung.

 

Ditengah-tengah perjalanan kakiku mulai terasa panas kerongkongan sudah kering aku memutuskan untuk  beristirahat di bawah pohon yang cukup rindang, daun-daunnya bisa melindungi aku dari sengatan sinar matahari, kemudian aku sandarkan bahuku kepohon itu sambil megipas-ngipaskan tangan kewajah dan leherku rasanya aku ingin berlama-lama di bawah pohon ini.

Sambil beristirahat aku kembali mengambil telpon dari dalam tasku dan berharap ada sisa baterai untuk menelpon bunda. Beberapa kali aku nyalakan tapi tidak berhasil telponku tetap mati.

 

Ketika aku lagi asik mencoba menyalakan telpon tiba tiba, aku terusik oleh sosok bapak yang berdiri tepat di hadapanku dia terus menatapku. Dengan perasaan takut aku memberanikan untuk melihat siapa yang berdiri di hadapanku. Aku perhatikan dari atas sampai ke bawah. Kepalanya botak, wajahnya lusuh, memakai kaos oblong berwarna putih robek-robek penuh noda sehingga menjadi kecoklatan, celana berwarna hitam namun pendek sebelah dan tidak memakai alas kaki.

 

Sambil terus menatapku bapak-bapak itu tersenyum memperlihatkan gigi hitamnya kemudian berkata “ Anak ku ..kamu anakku..slamat Tahun Baru ya ”. Aku terkejut mataku melotot, jantungku berdenyut kencang, ternyata sosok yang ada dihadapanku adalah orang gila, aku sangat ketakutan tanpa berpikir lama aku langsung berlari sekuat tenaga seakan lupa akan rasa letih dan lelahku.

 

Bapak itupun terus mengejarku sambil teriak teriak “selamat tahun baru anakku. Tapi aku  tidak berhenti aku terus berlari sampai suara itu tidak aku dengar lagi. Aku takut dikejar orang gila itu, aku takut ditangkap, aku takut dilempari….dan berbagai ketakutan mulai menyelimutiku. Aku semakin marah dan kesal sama Bunda.

 

“Gara-gara Bunda aku jadi cape harus berlari-lari, gara-gara bunda aku harus jalan kaki pikirku dalam hati” sambil terus menyusuri jalan menuju rumah.

 

Setelah berjalan cukup lama, sampailah aku di depan rumah. Ketika aku mengetuk pintu ternyata  pintu terkunci,“tok … tok … tok …. Bunda-bunda teriakku”Assalamualaikum…. Berulang-ulang aku ketuk pintu tetapi tidak ada satu pun jawaban, tidak ada yang membukakan pintu. Aku berpikir pasti semua orang dirumah pergi. Aku semakin kesal dan kecewa, apalagi aku merasa letih dan cape, airmataku tak terasa mulai keluar dari sudut bola mataku. Kekesalanku sama Bunda semakin bertambah.

 

Aku duduk di depan pintu, aku bosan dan kesal, Akhirnya aku tertidur pulas karena merasa kelelahan. Ketika kubuka mataku ternyata hari sudah semakin sore, cuaca mulai mendung dan mulai gelap. Aku coba buka pintu dan ternyata pintu sudah tidak di kunci. Perlahan-lahan aku masuk ke dalam rumah, lampu rumah belum dinyalakan, masih gelap gulita.

 

Dan ketika aku akan menyalakan lampu tiba-tiba aku mendengar bunyi terompet dan dari dalam kamar berhamburan keluar semua orang yaitu, Bunda, Ayah dan kedua kakakku serta ada beberapa saudaraku yang lainnya.

 

Mereka keluar dengan membawa kue tart kecil dengan angka 11. “Tret … tret … tret … berulang-ulang mereka membunyikan terompet.” Aku kesal dan marah karena aku berpikir mereka semua meninggalkannku, Aku tidak mengerti apa yang mereka lakukan, mengapa mereka semua melakukan ini. kemudian aku menangis tersedu-sedu, aku masih marah dan kesal sama Bunda.

 

Cepat-cepat Bunda memelukku sambil berbisik “Maafkan Bunda ya sayang …, kata Bunda.”

 

Ketika semua orang menyodorkanku kue tart dan menyanyikan lagu selamat ulang tahun, aku kaget dan akhirnya aku sadar kalau hari itu adalah hari yang sangat spesial buatku. Hari ini adalah hari yang menyebalkan tetapi sekaligus hari yang menyenangkan. Aku tidak ingat kalau hari ini aku ulang tahun dan usiaku bertambah menjadi 11 tahun. Aku merasa malu karena sudah beranggapan yang buruk terhadap semua keluargaku khususnya kepada Bunda.

 

Akhirnya dengan raut wajah malu-malu aku menghampiri mereka semua dan meniup lilin yang ada di atas kue tart. Semua orang kembali bernyanyi dan dengan hati yang berbunga-bunga aku mengucapkan rasa syukur dan berterimakasih kepada mereka semua. Aku senang sekali karena semua keluargaku masih mengingat hari ulang tahunku.

 

Setelah selesai bernyanyi dan tiup lilin aku potong kue tart nya, aku ambil piring kecil aku persembahkan sepotong kue tart nya pertama buat Bunda. Bunda yang buat aku merasa orang yang paling istimewa, paling mengerti aku dan menjadi idolaku. Sambil memberikan sepotong kue itu aku berbisik pada Bunda.

 

“Maafkan aku Bunda sudah berburuk sangka. Bunda, sepotong kue Cinta ini aku persembahkan kepada Bunda untuk menebus semua dosaku karena telah berburuk sangka sama Bunda … Sepotong kue Cinta ini adalah tanda Cinta dan kasih sayang aku sama Bunda.” Bunda tersenyum bangga sambil berkata” iya sama-sama sayang Bunda tahu kamu cepat ngambek tapi Bunda tahu kamu anak yang baik dengan kamu mau mengakui kesalahan buat Bunda itu hal yang sangat luar biasa”. Akhirnya kami semua bersalaman dan melanjutkannya dengan kumpul dan makan-makan bersama di ruang keluarga.

Dinas Pendidikan Kota Bandung 2017