DUKA SIKEMBAR

11/23/2018 by in category Cerpen, Guru with 0 and 1
Home > Karya > Karya Sastra > Cerpen > DUKA SIKEMBAR

DUKA SIKEMBAR

RIYADUL MAISAH- SMP AR RAFI DRAJAT

 

Suatu hari, di Kutub Utara, dua ekor beruang sedang berburu singa laut, mereka adalah Nova dan Lufy. Karena kecerdikan dan ketajaman taringnya mereka dapat menerkam mangsanya sangat cepat. Nova mengajak Lufy untuk membawa hasil berburu ke rumah. Dengan spontan Lufy berkata “Dagingnya pasti sangat lezat dan mengenyangkan ummmmm.”

 

Bergegaslah mereka membawa singa laut tersebut ke dalam rumah untuk disajikan. Mereka duduk di meja makan sambil membawa piring, dan membaginya menjadi tiga bagian. Sebelum makan, mereka sempat mengajak sang Nenek untuk ikut makan, sayangnya sang Nenek tertidur lenyap.

 

Setelah perut mereka kenyang. Tiba-tiba, Nova teringat masa kecil dulu. Kisah yang tidak akan pernah mereka berdua lupakan.  “Lufy, kau ingat tidak ketika kita masih kecil? Ketika ibu kita diburu? Ketika kita ditinggalkan dan akhirnya berusaha bertahan hidup?” Tanya Nova penasan, “Iya, aku ingat, aku rindu Ibu,” jawab Lufy dengan perasaan sedih.

 

Suasana di meja makan berubah menjadi sunyi. Kenangan yang sudah tersimpan rapi dalam ingatan. Sekarang teringat kembali.

 

Pikiran mereka berdua seperti ditarik oleh kenangan.

 

“Seperti biasanya, pada hari itu, Ibu, Lufy dan Nova keluar untuk berburu. Matahari sudah mulai terbenam, di tangan mereka sudah ada mangsa untuk disantap.

 

Di tengah perjalanan, Ibu melihat seorang pemburu yang sedang membawa senapan dan perangkap yang berisi ikan yang lezat.” Ibu dengan lembut berkata, “Nak, mari kita menjauh dari pemburu itu, Ibu tahu jalan yang lebih aman.” Kemudian Lufy mulai mengikuti Ibu. Sayangnya Nova malah tertipu oleh sang Pemburu. Nova berlari dengan gesit menuju ikan-ikan segar dan lezat, tanpa pedulikan perintah Ibu.

 

Ibu kebingungan karena Nova tak ada. Tanpa berpikir lagi, mata Ibu langsung tertuju pada perangkap. “TANG” suara perangkap tertutup “Tolong! Ibu! Tolong!” teriak Nova. Ibu pun mulai menggerogoti perangkap tersebut dengan giginya yang tajam. “Ibu sudah bilang untuk menjauhi perangkap tersebut!” Teriak Ibu marah.  Sebelum perangkapnya lepas, tiba-tiba sang Pemburu datang. Sang Ibu Beruang dan Lufy bersembunyi.

 

Kemudian sang Pemburu mulai menyeret beruang kecil Nova.

 

Melihat anaknya dibawa, sang Ibu menghampiri pemburu tersebut. Dengan cekatan Dia langsung mengeluarkan senapan untuk menembak Ibu Beruan. Ketika senapan akan diluncurkan, tiba-tiba si Pemburu terpeleset jatuh. Nova pun kabur untuk bersembunyi menghampiri Lufy.

 

“Ibu bagaimana?” Tanya Lufy penasaran, “Aku tak tahu” sahut Nova ketakutan. Beberapa saat kemudian “DOOOOR” suara senapan yang begitu keras terdengar. “ Ibuuuuuuuuuuuuuu”, teriak Lufy sambil berlari ke arah suara tersebut.

 

Pemandangan yang sangat mengerikan bagi kedua saudara tersebut, banyak darah yang mengalir di tempat sang Ibu berkelahi dengan si Pemburu.

 

“Ibu di mana?” Tanya Nova “Mungkin Ibu sudah tiada.” sahut  Lufy lirih. “Ini semua salahku, SALAHKU! Jika aku tidak serakah, ini semua tidak akan terjadi!” Teriak Nova sambil menangis.

 

Kemudian Lufy  menjawab dengan bijak, “Hal yang sudah terjadi tidak bisa diperbaiki. Nasi sudah menjadi bubur Nov. Walaupun kita sudah kehilangan Ibu, Kita masih bisa berjuang dan kerjasama satu sama lain. Aku berjanji akan menjagamu”.

 

Dengan perasaan sedih, mereka berdua berjalan menuju rumah. Tiba-tiba dipertengahan jalan, datanglah sebuah badai salju yang maha dasyat. Ketika itu, Nova masih dapat bertahan diri karena dia seekor beruang jantan, tetapi Lufy sudah mulai lemas karena dia adalah beruang betina.

 

“Nova, sepertinya aku sudah tidak kuat, mungkin di sini kita akan berpisah.” teriak Lufy putus asa. “Tidak! Aku tidak akan kehilangan seseorang lagi dalam hidupku!” bantah Nova.

 

Setelah badai usai, Nova terkejut melihat saudaranya tergeletak tak berdaya. “TOLONG! TOLONG! SAUDARIKU SEKARAT! TOLOOOOONG” Teriak Nova sekeras mungkin.

 

“Tuhan… tolonglah saudara ku Tuhan. Aku mohon bantulah kami yang kecil ini”, kata Nova dalam do’anya. Dia sangat yakin kalau Tuhan akan membantunya.

 

Kemudian, Nova memutuskan untuk membawa Lufy ke tempat yang hangat dan membaringkannya di perapian yang dibuatnya. Perasaan takut membuatnya terus menangis. “Aku akan melindungimu Lufy. Tetaplah bersamaku! Jangan pergi. Jangan tinggalkan Aku!” Lirih Nova putus asa. Malam semakin larut, mereka berdua pun tertidur lelap.”

 

Esok harinya, seorang beruang betina separuh baya melihat kedua beruang kecil tersebut. “Astaga! Siapa yang meninggalkan kedua bayi beruang ini ditengah-tengah padang salju ini?” Si beruang betina tersebut akhirnya membawa mereka berdua ke rumahnya. Beberapa saat kemudian, mereka terbangun. “Apakah ini surga? Sudahkah hidupku berakhir?” Tanya Nova kebingungan. “Sepertinya kalian sudah bangun.” Jawab sang beruang betina tersebut. “Ibu? Apakah itu dirimu? Apakah aku telah ikut bersamamu?” Tanya Lufy kebingungan.

 

“Perkenalkan diriku, namaku Nana” Jawab sang Beruang betina separuh baya. “Siapakah dirimu?” Tanya Nova. “Aku menemukan kalian di tengah padang salju. Aku merasa kasihan pada kalian, jadi aku membawa kalian ke rumahku.” Jawab si Beruang asing itu. “Mari, ke sini, aku sudah membuatkan sup ikan hangat untuk kalian.” Ujar beruang ramah.

 

Mereka pun mulai memakan sup ikan dengan lahap. Beruang betina tidak ingin mengurangi selera makan mereka dengan pertanyaan-pertanyaan yang sejak malam membuatnya resah.

 

“Tampaknya mereka sudah selesai makan, inilah giliranku untuk bertanya”, lirihnya dalam hati.

 

“Ehm Ngomong-ngomong, kalian mengapa dapat tersesat seperti itu?” Tanya sang Beruang betina tersebut. Lufy menjawab “Ceritanya seperti ini, kita sedang berburu bersama Ibu, tetapi setelah selesai berburu, di tengah jalan kami bertemu dengan seorang pemburu, Ibu menjatuhkan pemburu tersebut, kita mulai bersembunyi, tiba-tiba terdengar suara senapan keras dan setelah itu Ibu pun sudah tak terlihat lagi. Hanya darah yang mengalir yang kami lihat. Jawab Lufy terisak-isak.

 

Suasana hening seketika. Karena Lufy tak kuat bercerita.

 

Nova melanjutkan “Hilanglah harapan kami untuk menolong Ibu. Aku sangat menyesal dan tidak ingin serahkah lagi. Serakah membuat aku kehilangan Ibu. Akhirnya kami melanjutkan untuk pulang. Tetapi di tengah jalan terdapat badai salju. Kemudian, kita ditemukan oleh Anda. Terimakasih sudah menolong kami.”

 

“ Tinggallah di sini Nak, anggap aku Ibu kalian. Sudah jangan menangis”. Kata beruang dengan sangat ramah. “Benarkah itu?” jawab Nova.

 

Beruang itu hanya tersenyum dan memeluk kedua beruang kecil tersebut dengan lembut.

 

“ Apakah kami boleh memanggil Anda dengan sebutan Nenek?” kata Lufy lembut.

 

“Tentu boleh dan sangat boleh”. Sahut Beruang separu baya.

 

“Bagaimana hari kalian Nak”. Lamunan mereka buyar oleh suara lembut Nenek.

 

“Sangat luar biasa Nek”, sahut Lufy.

 

“ Ayo Nek, makan bersama”, ujar Nova.

 

Dan akhirnya mereka hidup bahagia dengan keluarga yang lengkap, hanya sekarang Ibu mereka diganti oleh seekor beruang tua yang baik hati. ***

Dinas Pendidikan Kota Bandung 2017