MAWAR vs RAKET

12/18/2018 by in category Cerpen, Guru with 0 and 0
Home > Karya > Karya Sastra > Cerpen > MAWAR vs RAKET

MAWAR  vs  RAKET

Karya: Nella S Wulan (SMPN 50 Bandung)

BUK!

Berjatuhan tumpukan buku di meja berbenturan dengan lututku. Dering ponsel memecah hening. Nada C mayor senandung kenamaan; Dealova berdentingan. Beradu dengan cicit burung dari belakang rumah kakak. Merdu memulas pagi yang mulai gerah. Cepat kuambil ponsel di meja.

“Kau bisa jemputku di bandara Soekarno Hatta ‘kan, Asih? Ku bel lagi jika tiba di sana. Aku sedang bebenah di matras  tempatku bermalam, menanti penerbangan. Taklah capsule-room, tapi aman kok. Ruangan ini penuh karpet empuk,”teriak sahabatku Mawar dari Bandara KLIA 2 Kuala Lumpur, Malaysia.

Klik. Nut nut ponsel berhenti. Pagi ini ada jadwal mengajar dua kelas. Tak apalah sesekali ijin. Tugas paper and pen sudah kutitipkan petugas piket. Aku telah di Jakarta sejak sore. Menunggu kabar dari Mawar, sahabat kecilku yang sedang meneruskan  belajar pasca di Kuala Lumpur. Dia ingin sekali menyaksikan pertandingan badminton diajang Asian Games 2018 ini. Ingatanku melayang ketika Mawar beberkan obrolannya kemarin. Ckckck…

“Suatu energy tambahan untukku, Sih, aku harus nonton Jee Cwan bertanding. Diucapkannya nama pemain badminton favoritnya dengan berbinar. Dia harus menang. Dua tahun lalu, 2016, kau tahu tak, Sih, Jee Cwan  memperoleh medali emas saat laga di Axieta Arena. Kunonton tak berkedip dengan kawanku Jufri. Esoknya kuturut ujian semester, dan nilai ujianku membaik. Duh, kau tak merasa bagaimana degupku melengkung-lengkup juga melompat zigzag setiap saksikannya melompat mengayun raket. Hop! Keren Sih, kereen.”

Ups. Aku hanya geleng-geleng kepala. Penggemar setia, atau barangkali jatuh cinta, jutaan rasanya. Dan hal itu sedang menimpa Mawar. Boleh-boleh saja. Manusia, dibekali panca indera untuk merasa banyak hal. Jutaan warna menghampar dari tujuh warna inti mejikuhibiniu. Kali ini Mawar sedang terayun-ayun dibeberapa warnanya. Merah muda, mungkin jingga, biru atau merah? Entahlah. Hanya ia yang tahu. Kuteruskan bacaanku pada kisah uniknya Carlos Maria Dominguez, penulis terkenal Uruguay: Rumah Kertas. Kisah Le casa de papel, telah dialihbahasakan dalam 20 bahasa.

*****

Dering gitar klasik berdenting dari ponselku dua jam kemudian. Mawar datang, pikirku dan benar. Cepat kuminta kak Danar antarku menjemput.

Cepat kami menuju A2, gate kedatangannya. Dari jauh kulihat lambaian syal ungu dikibarkan.

“Terima kasih jemputku, Akak Danar. Asih apakabar pula Kau? Sulit mengatup duamataku semalam, Sih.” Hhehehee… derai tawa Mawar.

Di mobil, sahabat kecilku banyak bercerita tentang kuliahnya yang lancar. Cuaca KL yang memanas, juga susahnya mengajak teman untuk bisa turut bersamanya ke Indonesia saat ini. Menonton laga badminton sang pujaan.

“Alamaak tonton saje dari tivi,”kata mereka selalu, mengelak ajakan Mawar untuk nonton pertandingan Jee. Mawar bersemangat. Matanya cerah bersinar.

 

“Kau hafal jadwal tandingnya?” tanyaku.

“Tentulah,ni ini kubawa schedule mainnya,”diacungkannya lembar kertas jadwal tanding.

“Bagaimana ramai Senayan kali ini yah, pasti banyak orang berbondong-bondong nonton.”

“Ya iyalah,” jawabku ringan.

Asian Games, event bergengsi empat tahunan yang dibanggakan . Suatu kehormatan negara kita dipercaya menjadi tuan rumah. Hingga akhir Agustus, kita masih menduduki peringkat ke-4. Tiga puluhan medali emas diraih atlet Indonesia.  Prestasi yang membaik. Nampaknya Jee Cwan pun akan dikalungi medali emas. Bling bling bertaburan menanti.

 

Mawar telah lama meninggalkan latihan badminton yang telah digelutinya sedari kecil. Bersamaku dulu, kita ayun raket di lapangan belakang rumah. Aku berhenti badminton karena kuliah, dia pun. Sesekali saja bermain badminton untuk lenturkan lengan. Hanya sesekali, itupun kalau ada yang mau menemani. Kalau tidak, langsung saja ke GOR, main satu dua set dengan mereka yang berlatih di sana.

 

*****

Esok pagi, bergegas Mawar dan aku ke Gelora Bung Karno- Senayan. Ransel coklat sukaregangnya penuh bawaan. Buku notes, kue camilan dan tentu kamera. Banyak poster terpampang di sana sini. ‘Energy of Asia’ mulai merasukki  para hadirin. Antrian panjang dan tertib, hingga tak kesal kita menanti giliran dapatkan tiket. Ouh, sesekali saja terlontar umpatan bila ada yang menyelip masuk barisan.

 

Sesi ke-1, pemain Indonesia Javin  memenangkan medali emas. Sorak sorai supporter menggema di stadion megah itu. Lawannya dari China diperingkat 2. Astaga, hampir habis suaraku berteriak menyorakki Davin. Hebat, apalagi ketika dia lempar kaos tandingnya yang basah oleh keringat kepenonton. Tak pelak banyak tubuh melompat untuk merebutnya. Seorang lelaki tinggi besar memegang kuat kaos basah itu. Tak masalah dengan keringat, yang penting kaos legenda bisa didapat. Entah akan dia apakan  kaos itu besok, dipakai atau akan dipajang dipigura jadi hiasan dinding. Entahlah.

Menunggu sesi berikutnya. Aku deg degan. Mawar yang biasanya cerewet bicara atau mengomentari penonton lain, sekarang agak diam. Mungkin ia berkonsentrasi, mungkin juga berdoa terus menerus. Seperti tercekat menanti tiba tayang film yang dimainkan aktor favorit.

“Ingin kujabattangan dengan Javin tadi, Sih, ikut bedesakkan ke depan. Tapi alamak penuh nian kerumunan orang di sana. Kena gencetlah awak nanti,” bisik Mawar.

“ Sudahlah. Kita kan sedang nunggu pemainmu. Sabar,” jawabku sambal mengunyah keripik singkong pedas nomor 2.

 

‘Energy of Asia’ mulai menghangat. Menonton tepakan raket dan lompatan pemain memacu adrenalin juga. Hm tak hanya ketika membaca atau di depan komputer, denyut meningkat. Tapi ini juga, meski tak seberapa bila dibanding dengan saat pertama kali aku jatuh cinta. Mungkin Mawar  sedang diketinggian degupnya. Ya, mungkin dia sedang mendapati jutaan bahkan milyaran rasa indahnya. Untuk apa tiba-tiba ke Indonesia hanya untuk nontong tanding Jee Cwan. Dan ia tak berpindah hati untuk Davinjo, pemenang medali emas yang sebetulnya lebih tampan. Cinta tak memandang rupawan tidaknya seseorang. Cinta ialah cinta, tak terukur, tak berbilang, tanpa alasan.

 

Gemuruh penonton menyesakki udara stadion. Memanas. Teriakan semangat menggema di barat timur utara selatan.

“Hebat, ayo, ayo terus,” terikan kecil pun keras Mawar diantara teriakan supporter lain beradu lantang. Sesekali tangan kirinya memukuli tangan kursi. Kali ini lebih seru dari yang tadi. Ah, tiga dua satu, yup, Jee Cwan memenangkan pertandingan!

Mawar berteriak girang. Dicubitnya lenganku keras, gemuruh stadion seperti bergenderang berpalu. Sangat ramai.

“Apa kubilang, Sih. Hebat, hebat kan? Ayo, ayo ke sana ke depan. Harus Sih, ikut aku,” cepat ditariknya lenganku. Berlari kecil sebelum desakkan penonton menghalangi.

“Sudahlah, kita keluar yuk, kita jalan dulu ke toko pernak-pernik di sana.”

“Haaah untuk apa? Nanti, Sih, nantiiii, aku harus memotonya dari dekat. Aku harus bertemu langsung dengannya. Inginku….. ah sudahlah, pokoknya  ke depan,” ajak Mawar tercekat. Ditelan ludahnya berikut kalimat yang hendak diucapkannya tadi.

 

Terengah aku lari mengejar Mawar. Penonton mulai tak beraturan. Terhuyung. Terhalang benturan bahu satu dua tiga, hingga banyak orang. Terpisah. Himpitan menyergap, terus kulalui jalan ke luar lapangan. Kutinggalkan Mawar dengan lariannya membawa berdegup bahagianya. Berdesak, terus berdesakkan beradu langkah Mawar ke depan, ke depan menenteng ranselnya  mendekati lapang laga, menuju pujaannya, Jee Cwan.

 

*****   Bandung, 31 Agustus 2018

Dinas Pendidikan Kota Bandung 2017