Misteri Kucing Hitam

11/02/2018 by in category Cerpen, Guru with 0 and 3
Home > Karya > Karya Sastra > Cerpen > Misteri Kucing Hitam

Aku berjalan gontai di jalan aspal menuju rumah. Tangan kiriku menjinjing kantong kersek yang berisi telur seperempat kilo, sambal instan, dan sayur kiciwis.

 

Terlihat istriku berlari dengan wajah yang muram mendekatiku. Keningnya mengerut bagaikan balon kempis kehilangan udara. Dia memanggil-manggil namaku, “Bapak! Bapak!”

 

Terlihat wajah garangnya terlihat seperti elang yang ingin menerkam mangsanya, ingin mengoyak daging, mencabik-cabiknya. Hatiku mulai ketar-ketir juga melihat pemandangan yang menyeramkan dan mencekam itu.

 

Dengan suara pelan seakan ingin meredam suasana yang mencekam itu aku bertanya,

“Ada apa mah?”

Dengan suara garang sambil ketakutan dia berkata menegurku,

“ Bapak bagaima ini?”

“Aku takut!” ujarnya.

Istriku seorang penakut. Ia dibesarkan dari keluarga yang sangat kental dengan namanya mistis. Bapaknya adalah seorang “orang pintar” kata orang di kampungnya. Ia menjadi orang yang selalu diminta tolong oleh warga di sana. Nuansa mistis sangat melekat di hidupnya. Istriku sepanjang masa kecilnya selalu ditakut-takuti oleh orang tuanya. Maksudnya sih baik agar anaknya tidak keluar rumah atau melakukan hal-hal yang buruk. Tapi akibatnya jiwanya agak terganggu dan menjadi penakut.

“itu…itu… ada lagi… aku takut…! katanya

Bruk…!!! tubuhnya lunglai dan terjatuh  di pinggir jalan. Segera kuangkat dan kubopong ke rumah yang tidk jauh dari sana.

 

Kuambil minyak telon yang biasa dipakai istriku untuk membasuh seluruh tubuh anakku yang kecil selesai mandi. Ku gosokkan di atas bibir di bawah hidungnya, di sekitar pelipis dan tengkuknya sambil ku panggil-panggil namanya. “Bu… bu… bangun… sadar bu!

Aku sangat bingung dan prihatin dengan kondisi istriku ini.

 

Semua bermula dari kejadian minggu yang lalu. Ketika dia mau berkunjung ke rumah ibunya memakai motor. Di perjalanan tak sengaja istriku menggilas kucing. Ceritanya ketika di depan kios dekat rumah ibunya, secara tiba-tiba ada seekor kucing yang melompat dari pinggir jalan menubruk motor dan kucing itu tergilas oleh ban belakang motor yang ditumpngi istriku.

 

Sejak saat itu istriku sering mengigau dan penuh ketakutan. Dia bercerita selalu di hantui dan diteror oleh seekor kucing yang berwarna hitam. Dia pernah bermimpi bahwa ada seekor kucing mendatanginya, kucing itu berwarna hitam dengan mata yang bulat memancarkan cahaya yang menakutkan dan akan menerkamnya.

 

Entah darimana datangnya setiap hari ada kucing hitam yang selalu mendatanginya.

 

Suatu hari istriku menelponku supaya pulang. Ia merasa ketakutan, ada suara aneh di belakang rumah. Suaranya seperti cakar yang menggores-gores tembok. Ketika dilihat ada sesosok bayangan hitam sekilas dia melihat manusia berbentuk kucing.

 

Setiap hari istriku selalu menelpon agar aku segera pulang, takut katanya. Setiap hari, aku menenangkan dia bahwa itu hanya imajinasi dan khayalannya. Di dunia ini tidak ada yang namanya hantu. Jika kunasehati begitu istriku selalu tidak terima

“Bapak sudah tidak percaya aku!”

“Bapak tidak sayang aku!”

“Pak kucing itu benar-benar ada dan menghantui aku!”

“Panggilkan aku orang yang bisa mengusir hantu kucing itu!” pintanya.

“Ya besok bapak panggil orang pintar,” jawabku.

“Ga mau, pokoknya harus hari ini!” Pintanya.

 

Dengan rasa berat hati dan lelah, aku pergi ke orang pintar yang katanya bisa mengusir hantu.

Pa Didin sudah berada di rumah. Dia seorang ustad yang menekuni ilmu hikmah sehingga ia bisa menerawang ke alam gaib, kata orang sih… Aku sebetulnya ga percaya hal-hal seperti itu.

Dengan kekuatan dan ilmu yang dimilikinya ia mencoba menerawang dan mulutnya berkomat kamit membacakan doa-doa. Setelah beberapa jam ia keluar dari kamar tempat ia berdoa dan berkata kepada kami,

“Bapak… ibu… di sini tidak ada yang namanya hantu.”

Rumah bapak dan ibu bersih, karena penglihatan saya, bapak adalah orang yang rajin shalat dan berdzikir.

 

Keesokan harinya, Bu Nina tetanggaku datang ke rumah, dia bercerita bahwa dia kehilangan kucing yang baru dibelinya. Kucing itu kabur dari kandangnya ketika dia lupa mengunci setelah memberi makan. Kucingnya itu berwarna hitam.

 

“Tuh kan bu, tidak ada hantu kucing yang berwarna hitam. Kucing itu bukan hantu. Itu kucing peliharaan Bu Nina yang kabur dan tinggal di sekitar rumah kita.” Ujarku.

 

Amanat jangan mendidik anak dengan cara menakut-nakuti

Jangan percaya yang namanya tahayul dan hantu

Dinas Pendidikan Kota Bandung 2017