Rumus Matematika

12/03/2018 by in category Cerpen, Siswa with 0 and 1
Home > Karya > Karya Sastra > Cerpen > Rumus Matematika

RUMUS MATEMATIKA

Cerpen : Laura Putri Rosari – Siswa SMP Waringin

 

Saya bingung, kenapa matematika ini sangat menyulitkan. Sebenarnya bagi saya tidak begitu sulit sih. Tapi dalam membalikkan segitiga agar kongruen saya harus memakai logika saya. Walau hanya membalik segitiga ke kanan atau ke kiri, itu bukanlah hal yang dapat dilakukan dengan cepat oleh orang seperti saya. Bagaimana tidak? Dalam memakai logika untuk mengetahui kuadrat saja, saya butuh waktu lama untuk memahaminya. Belum lagi guru kami tidak menjelaskan tentang materi ini dan besok sudah ulangan.

“Apa? Ulangan?”

Seketika saya ingin marah saat teman saya, Cein, memberitahu bahwa besok ada ulangan matematika. Saya sedang duduk di kursi ternyaman saya di pojok kamar dan ditemani segelas coklat panas yang dibuatkan oleh Mamah. Saya membuka handphone dan melihat chat Cein yang memberi tahu bahwa besok ulangan. Saya terkejut dan sangat ingin marah. Bagaimana tidak? Saya sama sekali tidak mengerti tentang materi “kesebangunan”.

Saya hanya diam di kursi memetik gitar sambil bengong. Sekarang saya harus apa ya? Sudah jam 11 malam. Teman-teman pasti sudah pada tidur. Apakah saya harus merelakan nilai saya jelek besok? Tidak! Saya bukan orang yang cepat menyerah. Saya harus belajar!

Panik pun melanda saya. Saya mengambil buku dan belajar dengan mati-matian bagaimana cara menentukan bahwa segitiga itu kongruen. Sudah pukul setengah satu malam. Saya cukup mengerti tentang rumus ini! Walau saya tidak begitu yakin sih.

Bunyi telepon Line berbunyi. Ternyata itu adalah telepon dari Cein.

“Bagaimana?” tanya Cein.

“Apanya?” jawab saya.

“Rumus matematika,” katanya lagi.

“Saya cukup mengerti.”

“Baik. Ajari saya!” kata Cein.

Pembelajaran matematika kami dimulai. Kami memulainya pukul satu malam. Terbayang bagaimana kelelahan kami? Pertama kami membahas soal yang diberikan oleh guru kami, Bapak Emse. Soal itu berjumlah sepuluh butir dan semua itu kami isi di sekolah. Sebenarnya saya mengisi itu dengan mencontek ke teman sebangku saya sih.

Pertama kami membahas soal nomor 1. Rasanya gampang. Kami hanya menghabiskan waktu 10 menit untuk mengulik lebih dalam soal itu. Kami melanjutkan ke soal nomor 2. Ini memang lebih sulit dari soal nomor satu. Maklum saja, mengetahui sudut yang sebangun dan kongruen itu bukan hal yang mudah. Kami menghabiskan waktu 15 menit.

Titik permasalahan dimulai saat kami membahas nomor 3. Menurut saya, soal nomor 3 ini tidak begitu rumit, hanya perlu membalikkan segitiga agar tahu, mana sisi segitiga yang bersesuaian. Setelah itu tinggal memasukkan rumus “air mancur” yang diajarkan Bapak Emse.

Tapi rumus ini adalah masalah untuk Cein. Lah, kok rumus seperti ini aja dia tidak dapat mengerti? Padahal rumus yang lebih sulit dia dapat mengerti dengan cepat.

“Ini gimana sih?” tanya Cein.

“Kamu coba balikkan bukumu ke arah kanan dan kamu sesuaikan dengan segitiga yang sudah lurus!”
“Apa yang dibalikkan?”

“Astaga! Masa kamu tidak mengerti sih! Kamu lihat sudut 90°nya!”

“Oh iya iya!” kata Cein.

“Mengerti?”

“Tidak, hehe.”

Huh, saya sungguh heran. Kok yang seperti ini tidak bisa sih? Saya sudah sampai teriak-teriak menjelaskan sampai urat saya mungkin hampir terputus. Keringat saya pun mengucur masuk ke cangkir kopi hangat yang dibuat oleh Mamah.

Satu setengah jam sudah habis hanya untuk membahas nomor 3. Saya terus membahasnya bersama Cein dan dia tetap saja tidak mengerti.  Dua jam pun berlalu. Sekarang sudah pukul 2.56 dan kami belum tidur.

“Jadi kamu hanya perlu balikkan bukumu sampai bukumu itu menghadap ke kanan. Kamu lihat kan segitiga A dan segitiga B dalam satu segitiga itu sebangun?” kata saya pada Cein

Hm, iya lalu?”

“Ya kamu liat sudut 90° pada segitiga ABC! Sama kan letaknya sama segitiga POQ?”

Hm, iya lalu?”

“Ya kamu tinggal samakan saja! Sudut A sama dengan sudut O.”

“Oh, berarti sudut B sejajar dengan sudut P dan sudut C sejajar dengan sudut Q?”

“Nah, itu kamu tahu!”

“Oh jadi cuma gitu dong! Kamu tidak jelas ngajarinnya!”

“Ya, kamu saja yang lemot!”

Waktu sudah berjalan sampai jam setengah 4. Akhirnya Cein mengerti. Jadi, kami menghabiskan waktu 2,5 jam hanya unutk membahas soal nomor 3. Huh! Lama sekali kan! Padahal cuma kayak gitu saja kok lama banget sih! Untung dia sahabat saya, kalau tidak, sudah saya tinggalkan deh dia belajar sendiri.

Coklat panas bercampur keringat saya sudah habis. Kantong mata saya sudah membesar. Ini sudah pukul 5 subuh. Saya cukup terkejut saat saya liat jam.

Tiba-tiba telepon saya dan Cein terputus. Saya mendapat SMS dan kuota saya sudah habis.

“Hah? Masa sih?” tanya saya dalam hati.

Saya baru membeli kuota 10 GB tiga hari yang lalu. Masa sih sudah habis? Saya melihat handphone. Ternyata tanpa sadar saya bertelepon dengan Cein  selama 4 jam hanya untuk membahas 10 soal matematika! Haduh! Duit saya terbuang 65 ribu hanya untuk membahas 10 soal matematika yang sebenarnya mudah! Mungkin saat saya bicara bahwa kuota saya habis, Mamah tidak akan membelikan kuota untuk 1 bulan ke depan. Daripada pusing memikirkan kuota, lebih baik saya tidur dulu.

Saya memasang alarm sampai pukul 5.35 dan saya tertidur. Baru saja saya tertidur pulas, alarm sudah berbunyi. Rasanya susah sekali mau membuka mata. Seolah otak dan mata saya berkata, “Sebentar lagi!” Tapi nanti saya terlambat bila saya tidak lekas bangun. Ulangan matematika dimulai pada jam ke-1. Ah!

Rasanya kepala ini mau pecah. Saya sangat pusing karena saya kurang tidur. Saya juga memikirkan ulangan matematika nanti.

Pukul 6.35 saya berangkat ke sekolah. Sampai di sekolah, saya tidak melihat Cein. Ternyata dia tidak masuk. Huh! Kalau saya tahu dia tidak masuk hari ini, saya tidak akan membuang waktu saya untuk mengajari dia sampai subuh. Sungguh mengesalkan!

Bel sekolah berbunyi. Saya memulai ujian matematika saya. Saya membaca soal. Ternyata soal itu sangat mudah. Apa yang kami pelajari kemarin, tidak keluar di ulangan ini! Tahu kan rasanya bagaimana?

Dinas Pendidikan Kota Bandung 2017