SUARA DI BALIK GORDYN

11/02/2018 by in category Cerpen, Pengawas with 0 and 2
Home > Karya > Karya Sastra > Cerpen > SUARA DI BALIK GORDYN

TETI MARDIANA

PENGAWAS SMP

Rini merebahkan tubuhnya di atas ranjang, matanya menerawang ke langit-langit kamar. Ditariknya selimut menutupi sebagian tubuhnya. Diraihnya HP di samping tempat tidurnya ketika terdengar notifikasi, ternyata WA dari suaminya.

“ Yang, Aku pulang terlambat malam ini, ada rapat mendadak. ” Rini menghela nafas,  sudah kesekian kalinya Rimba suaminya pulang terlambat dan mendadak. Meski begitu dia bersyukur bahwa suaminya masih sempat memberitahunya, meski hanya lewat WA.

“ Ya Mas, tapi jangan terlalu larut pulangnya, ingat kesehatanmu ” tulis Rini.

Malam kian larut, dalam keheningan suara detak jam yang menempel di dinding kamarnya jelas terdengar. Sesekali  terdengar suara kendaraan lewat di jalan raya di depan rumahnya. Sudah berkali-kali Rini minta untuk pindah saja dari rumah ini, karena kalau siang hari rumah ini terasa sangat bising. Apalagi sekolah dasar yang berbatasan dengan tembok samping rumahnya menyisakan kekesalan tersendiri, beberapa kali bola plastic terlempar ke arah taman yang sudah dirawat  dengan  sangat hati-hati. Tak jarang bola – bola itu merusak bunga mawar  yang tengah mekar – mekarnya, atau menjatuhkan pot kaktus yang sangat dia sayangi. Belum lagi pedagang jajanan yang mangkal sampai pinggir jalan sampai ke depan rumah yang kadang menghalangi sekedar untuk keluar masuk mobil di siang sampai sore hari.

“ Mau pindah kemana lagi, rumah ini pun sudah susah pula kita dapat. ” begitu selalu jawaban Rimba.

Tiba- tiba terdengar suara aneh di dalam kamar. Rini menajamkan pendengarannya. Suara itu pun menghilang.

“ Ah mungkin hanya pendengaranku saja ”  Dia menarik selimut dan  berusaha tidur. Belum  sepuluh menit dia terlelap, dia terbangun karena suara itu lagi.

Dia bangkit, dan turun dari tempat tidurnya. Keluar kamar sambil jalan terseok – seok, karena ternyata dia memakai sandal yang salah.

Diambilnya gelas bertangkai lalu menuangkan air dingin dari dispenser di samping meja makan. Dia menghela  nafas lega sesudah meneguk minuman dingin yang menyegarkan kerongkongan yang tadi terasa sangat kering.

Tiba –tiba terdengar lagi suara itu, sekarang dari balik gordyn jendela yang menghadap ke taman samping rumah. Dadanya berdegup kencang. Tergesa-gesa dia kembali ke kamar. Mengunci diri di dalam kamar.

Jam dinding menunjukkan angka 12, Rimba belum juga pulang. Rini menghempaskan tubuhnya ke sofa disamping tempat tidur.  Sekarang suara itu terdengar lebih jelas di balik gordyn kamarnya. Dia tidak berani untuk sekedar menyibakkan gordyn untuk melihat ada apa di sana. Terbayang dalam benaknya mahluk yang menyeramkan seperti dalam film – film horror yang sering ditontonnya.

Rini mengambil HP dan diteleponnya Rimba, berkali-kali hanya terdengar nada sambung, tidak ada tanda – tanda diangkat oleh suaminya. Dicobanya berkali – kali menghubungi Rimba, tapi berkali – kali itu pula dia harus menelan kekecewaannya.

“ Mungkin dia sedang di perjalanan “  bisik hatinya, dia memang sering meminta Rimba untuk tidak mengangkat telepon selagi mengendarai kendaraan. Dia sangat khawatir jika terjadi hal yang tidak diinginkan.

Dia naik ke tempat tidur, lalu meraih selimut untuk menutupi seluruh badannya. Suara itu masih jelas terdengar, dia menggigil ketakutan. Dia menutupi kepalanya dengan bantal, berharap suara itu tidak akan terdengar.

Dia bangkit segera begitu terdengar suara grendel pintu garasi dibuka.

“ Akhirnya pulang juga ” batinnya, sambil berjalan ke pintu.  Dia membuka pintu penghubung ke garasi. Garasi terang benderang karena sorotan lampu mobil yang sedang dimasukkan oleh Rimba.

“ Mas, suara – suara itu tadi terdengar lagi. “ katanya begitu Rimba turun dari mobil.

“ Pokoknya aku nggak mau lebih lama lagi tinggal di rumah ini, serem” lanjutnya, sambil mengambil tas dari tangan Rimba setelah dia mencium tangan suaminya.

“ Besok kita cari apa penyebabnya. “ jawab Rimba sambil menggandeng Rini masuk dan duduk di ruang tengah.

Setelah menyimpan tas Rimba, Rini bergegas mengambil gelas dan mengisinya dengan dengan air hangat seperti kebiasaan suaminya.

“ Mas nggak tahu gimana seremnya aku tinggal di rumah sebesar ini, sendirian sepanjang hari “

Jawabnya sambil menyandarkan kepalanya ke bahu Rimba.

“ Rin, aku besok harus tugas ke luar kota, tiga hari “ kata Rimba sambil mengelus kepala Rini

“ Tuh kan itu artinya aku akan sendirian lagi, dengan suara –  suara itu lagi “  rungut Rini

“ Besok coba telepon Dinda untuk menemanimu di sini selama aku pergi “ jawab Rimba.

“ Nggak mau, Dinda suka ngacak bajuku “ sahut Rini.

“ Ya dipisahkan saja mana baju yang boleh dia pinjam, dan mana yang nggak boleh, kunci lah lemarinya” jawab Rimba.

“ Aku suka nggak tega kalau dia sudah memelas, memohon ingin pinjam bajuku” sahut Rini

“ Nah itu, kabaikanmu sekaligus kelemahanmu “ sahut Rimba sambil memijit hidung Rini.

“ Aku mandi dulu ya, ngga enak tidur dengan keringatan begini “ sahut Rimba sambil bangkit dari sofa. Rini pun bangkit dan berjalan ke kamar hendak mengambil handuk dan baju piyama suaminya. Dipilihnya warna biru kesukaan Rimba. Terdengar   suaminya bersiul diantara suara guyuran air dari shower.

“ Hei jangan bersiul di kamar mandi, malam – malam pula ” seru Rini sambil merapikan tempat tidur, dan suara itu pun terdengar lagi, gemeretak di balik gordyn. Perlahan disibakkannya gordyn tebal berwarna merah hati itu, memberanikan diri mengingat sekarang sudah ada suaminya, dipandangnya dengan teliti gordyn itu dari atas sampai bawah. Tidak ada sesuatu yang aneh. Dia berjalan menuju ruang makan dimana dia mendengar suara itu pula tadi sebelum Rimba datang, disibakkannya juga gordyn itu, dipandangi dengan teliti, juga tidak tampak sesuatu yang aneh, tapi suara itu tetap terdengar gemeretak.

“ Apakah di situ juga terdengar suara aneh itu “ Tanya Rimba yang sudah selesai mandi, harum sabun mandi tercium semerbak.

“ Iya Mas, coba dengarkan “ sahut Rini sambil menarik suaminya.

“ Iya aku juga dengar “ sahut Rimba, dicondongkannya badannya ke arah jendela. Lalu dibukanya grendel jendela sambil melongokkan kepalanya ke arah taman.

“ Tidak ada apa  – apa “ kata Rimba, Rini ikut melongokkan wajahnya ke arah taman. Memang tidak terlihat sesuatu yang aneh, bunga – bunga di pot masih tetap pada tempatnya, anggrek ungu terlihat anggun terkena sinar neon di bawah rimbunnya daun puring.

“ Ya sudah, mari kita tidur “ ajak Rimba sambil mengunci jendela.

Kemudian dia membaringkan  tubuhnya sambil menarik tubuh Rini ke dalam pelukannya.

Suara adzan dari Masjid di dekat rumahnya membangunkan mereka, bergantian mereka masuk kamar mandi dan berwudu untuk solat subuh berjamaah.

“ Jam berapa nanti berangkat Mas “ Tanya Rini sambil melipat mukena dan meletakkannya di laci  di dekat jendela.

“ Siangan, nanti disamper oleh Pak Broto kemari “ jawab Rimba, Pak Broto adalah supir kantor suaminya yang selalu mengantar jika ada tugas ke luar kota.

“ Bagus kita bisa memeriksa jendela dulu dengan lebih jelas nanti ya Mas “ sahut Rini sambil menuangkan air panas ke dalam cangkir yang sudah terisi kopi hitam, satu cangkir untuk dirinya, dan satu cangkir lagi disodorkannya kepada suaminya.

“ Ya, terima kasih sayang “ sahut Rimba sambil menerima cangkir yang disodorkan Rini, kemudian menyeruput kopi sedikit, dan sambil menghela nafas panjang disimpan kembali di meja di depannya.

Rini duduk disamping suaminya, dinyalakanya televisi dan dicarinya chanel kesukaannya.

 

Pagi itu setelah sarapan, Rini  mengajak suaminya untuk memeriksa jendela. Gordyn dia gulung ke sisi kiri.  Diperiksanya dengan cermat setiap senti dari kusennya.  Di sudut sekali terlihat ada mahluk mungil menyeruak, dan disekitarnya ada butiran butiran kecil berwarna kekuningan. Rimba  mengetuk  kusen jendela itu, dan bres! kulit kayunya melesak. Ternyata kusen itu sudah rapuh bagian dalamnya dimakan rayap.

Dinas Pendidikan Kota Bandung 2017