Bandung — Pagi yang cerah menghiasi Kota Bandung yang beberapa hari ini begitu terasa terik. Angin sepoi-sepoi, kadang begitu kering di kulit dan hareudang. Namun Bandung tetaplah kota menakjubkan dengan segala kenyamanan bagi warganya.

Tak hanya warganya yang ramah dan murah senyum, melainkan konsisten melestarikan kebudayaan dan mengenalkan kepada generasi muda. Salah satunya memakai batik jadi suatu kebanggaan sebagai identitas yang telah diakui oleh dunia melalui UNESCO.

Walaupun beberapa wilayah punya bati, tentu Bandung memiliki keunikan dalam menciptakan motif-motif yang indah untuk dipandang. Batik Putri Dago di bawah naungan Lembaga Kursus dan Pendidikan (LKP) Putri menjadi salah satu contoh yang masih melestarikan kebudayaan asli Indonesia.

Lokasinya di Jalan Ir. H. Juanda No. 343 Kecamatan Coblong, Kota Bandung, Jawa Barat. Cukup mudah ditemukan, karena lokasinya yang strategis dan sudah dikenal oleh masyarakat Bandung maupun luar Bandung karena keunggulan dari kualiatas serta motif batiknya.

Dalam momentum Hari Batik yang diperingati setiap 2 Oktober, ini menjadi pengalaman yang menarik. Sebab, bisa berkunjung untuk melihat proses membatik di tempat produksi yang berada di seberang Batik Putri Dago.

Pandangan pertama, kumpulan para perempuan hebat tengah membatik. Duduk di kursi kecil memegang canting yang telah diisi dengan cairan malam yang dipanaskan di dalam panci khusus. Perlahan, kain katun diberi sentuhan garis sesuai motif yang telah dipola sebelumnya. Di sinilah identitas dan karakter suatu khas daerah terlihat.

Tak hanya perempuan, laki-laki pun tak ada hukum yang mengharamkan untuk membatik. Semua genre bahkan anak yang dengan keistimewaan (ABK) pun memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan berkontribusi melestarikan batik.

Cetak, tulis atau celup, cara ini mengajarkan satu hal penting yakni apapun metodenya hasilnya tetap batik dengan segala keunikannya. Ini adalah keragaman yang menyatu dalam balutan kebudayaan.

Dede Kurniasih, selaku pemilik Batik Putri Dago sekaligus pendiri di LKP Putri menyampaikan Batik sebagai identitas kebudayaan bangsa Indonesia. Maka warganya punya kewajiban untuk melestarikan dan mengenalkan bahwa batik itu keren.

“Batik Kota Bandung memiliki khasnya sendiri dengan balutan motif Kujang, Cangkurileung, Patrakomala, Gedung Sate, Pasopati hingga motif stadion Persib (Gelora Bandung Lautan Api) yang unik,” kata Dede saat ditemui di Batik Putri Dago.

Namun ia juga tidak menutup diri untuk lebih berkreasi dan inovatif. Sesuai dengan pesanan dan kepeminatan pengguna, motif bisa disesuaikan. Misal, anak generasi milenial dan Gen Z lebih suka motif abstrak atau kontemporer maka didihadirkan.

Tentu menurutnya, ini tidak sama sekali menghilangkan keunikan dari batik itu sendiri. Batik tetap batik, apapun motifnya menjadi kebanggaan bangsa Indonesia.

“Motif batik yang paling diminati oleh masyarakat Bandung dan luar adalah motif Patrakomala. Ini betul-betul khas Bandung, sebab dulu kala sepanjang jalan Bandung banyak pohon Patrakomala,” ujarnya.

Bagi masyarakat Bandung maupun luar yang ingin turut melestarikan batik atau hendak membeli batik untuk acara bisa mampir ke Batik Putri Dago ini. Ada banyak pilihan motif dan warna. Mau kain atau yang sudah siap pakai tersedia.

Ayo, tingkatkan rasa bangga terhadap batik dengan percaya diri memakai batik dan tidak bosan-bosannya mengenalkan kepada orang-orang di seluruh dunia. Kita Bangga Pakai Batik. *** (fat/irv)

 

Tim Humas Dinas Pendidikan Kota Bandung


Editor: Siti Fatonah